Jakarta Tekab86.com– Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Pemicunya kekhawatiran bahwa kebutuhan air proyek itu dapat mengurangi pasokan untuk warga dan petani. Di tengah isu ini, muncul pertanyaan: seberapa sadar mahasiswa, sebagai pengguna AI sehari-hari, akan dampaknya?
Penghentian sementara tersebut dilakukan pada 28 September 2026. Pemprov Jabar meminta kebutuhan air pengembangan pusat data dipastikan tidak mengurangi alokasi air untuk pertanian. AMDAL dan PBG proyek BDx di Jatiluhur juga masih harus diselesaikan.
“Sikap pemerintah pusat”
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa pembangunan pusat data AI harus memperhitungkan keberlanjutan pasokan energi dan air bersih, dan tidak boleh mengganggu kebutuhan air masyarakat (8/10/2026).
“Mengapa AI butuh air”
Pusat data beroperasi 24 jam dan perlu didinginkan. Air juga terpakai secara tidak langsung karena pembangkit listrik yang memasoknya membutuhkan air untuk mendinginkan turbin. Rystad Energy memperkirakan konsumsi air langsung pusat data global naik dari 222 miliar liter (2025) menjadi 644 miliar liter per tahun pada 2030 jika tidak ada perbaikan efisiensi. Menurut Ketua Umum IKTII Teddy Sukardi, hubungan air dan energi adalah trade-off, dan ia menyarankan chiller dengan sumber air non-tanah.
Bagaimana mahasiswa memandangnya?
Pemakaian AI di Indonesia sudah luas. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat sekitar 80 persen pengguna digital di Indonesia memakai layanan berbasis AI setiap hari.
Fanky (Kompas Lestari, 29 Agustus 2026)
Ia menyebut potensi krisis air akibat pusat data AI sudah tampak di Johor Bahru, Malaysia, karena penyedotan air tanah berlebihan membuat warga sekitar kesulitan mengakses air. Sebagai solusi jangka panjang, ia menyarankan pusat data beralih ke liquid cooling yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Regulasi belum siap
Opini dosen FH UI menyebut Indonesia masih kekurangan instrumen hukum khusus untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi air oleh industri teknologi.
Sumber: Katadata, Bisnis.com, Kompas.com.












