Waesama,Tekab86.com– Pemerintah Kabupaten Buru Selatan melalui Dinas Sosial resmi memulai langkah nyata dalam pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Bertempat di Kecamatan Waesama, Sabtu (9/5/2026), dilakukan prosesi peletakan batu pertama pembangunan Balai Sosial, fasilitas MCK, dan penyediaan air bersih.
Tak hanya pembangunan fisik, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyaluran bantuan stimulan berupa paket sembako dan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Rincian bantuan yang diberikan mencakup kursi, tempat tidur, kasur, selimut, hingga peralatan dapur lengkap guna mendukung kehidupan layak bagi warga penerima manfaat.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buru Selatan, Usman Ali Isan dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperhatikan dan memberdayakan masyarakat adat di enam kecamatan.
“Hari ini kita awali dari Kecamatan Waesama. Harapan kami, di tahun-tahun mendatang seluruh kecamatan di Kabupaten Buru Selatan dapat tersentuh oleh program pemberdayaan pemerintah secara merata,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil kolaborasi erat antara Kementerian Sosial RI dan Pemerintah Daerah. Untuk tahap awal, tercatat ada 133 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di empat titik lokasi sebagai target sasaran, yakni:
• Dusun Fatiban, Desa Hote
• Mangga Dua, Desa Wamsisi
• Dusun Lumara, Desa Waeteba
• Dusun Denalahin, Desa Simi
Lebih lanjut, Kadisos menekankan bahwa target besar pemerintah daerah ke depan adalah merelokasi masyarakat yang saat ini masih tinggal di dalam hutan ke dalam satu pemukiman yang terpadu.
“Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan akses layanan dasar yang memadai, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penerangan (listrik).
Pemerintah daerah terus mendukung penuh program pusat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya komunitas adat terpencil,” tambahnya.
Menariknya, Balai Sosial yang dibangun nantinya tidak hanya menjadi tempat pertemuan, tetapi juga pusat pemberdayaan UMKM berbasis kearifan lokal.
Sementara itu, Bupati Buru Selatan, La Hamidi, S.H, menyatakan pembangunan ini bukan sekadar fisik, melainkan upaya mengangkat potensi lokal masyarakat adat agar mandiri secara ekonomi.
“Masyarakat adat akan didorong untuk mengembangkan kreativitas seperti kerajinan anyaman bambu untuk pembuatan keranjang, topi, dan produk lokal lainnya,” ujar Bupati, menegaskan visi pemberdayaan berbasis kearifan lokal.
Lebih lanjut, Mantan pimpinan DPRD ini, menekankan bahwa inisiatif ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan dan merata di seluruh wilayah Bursel, tidak hanya terbatas di Waesama.
“Pemerintah akan terus mendorong potensi ini. Bukan hanya di Waesama, tapi juga akan menjadi target kami di kecamatan-kecamatan lainnya di Buru Selatan,” tegasnya.
Melalui bantuan stimulan dan balai sosial tersebut, diharapkan masyarakat adat memiliki ruang untuk memproduksi, memamerkan, dan menjual produk anyaman bambu, sehingga mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga dan melestarikan budaya lokal di tengah modernisasi.
Sumber/Penulis: Dade Papalia












