Berita

Yusman Dawolo: Gagasan Sebagai Titik Awal Perubahan

30
×

Yusman Dawolo: Gagasan Sebagai Titik Awal Perubahan

Sebarkan artikel ini

Gunungsitoli (Tekab86.com) Pengamat ekonomi, sekaligus sebagai praktisi entrepreneur yang sudah memiliki banyak sertifikasi dalam berbagai ilmu bidang ekonomi dan bisnis, serta telah berpengalaman selama 17 tahun mengelola usaha diberbagai bidang, dan saat ini memiliki lebih dari 600 karyawan di perusahaannya.

Dr. H.C, Yusman Dawolo, M.Kom.I (Bang YD) mengatakan, bahwa pada hakikatnya, setiap perubahan besar selalu berangkat dari gagasan. Gagasan mencerminkan kepedulian, proses berpikir yang aktif, serta keberanian untuk mencari solusi atas persoalan yang ada.

“Sebaliknya, ketiadaan gagasan sering kali menjadi indikator stagnasi, baik karena keterbatasan kapasitas keilmuan, pengalaman dan ketrampilan, karena rendahnya kepedulian, ataupun keengganan untuk berpikir secara lebih mendalam.” Kata Bang YD

Dalam berbagai forum diskusi dan perumusan kebijakan, fenomena yang kerap muncul adalah kecenderungan sebagian pihak untuk bersikap pasif: mengikuti arus tanpa menawarkan alternatif pemikiran.

Padahal, dalam konteks minimnya lapangan pekerjaan, pertanyaan paling mendasar seharusnya sederhana namun krusial, apa gagasan konkret yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah sedikitnya lapangan pekerjaan ?

Mental Block dan Budaya Alasan dalam Pembangunan

Salah satu hambatan utama dalam mendorong kemajuan adalah munculnya mental block, yaitu kondisi ketika individu atau institusi lebih fokus pada pembenaran atas keterbatasan daripada pencarian solusi.

Berbagai tantangan seperti adanya keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik dan ketergantungan pada transfer fiskal pusat,
memang merupakan realitas objektif yang tidak dapat diabaikan.

Namun, dalam perspektif ilmiah, khususnya dalam studi pembangunan ekonomi, kondisi tersebut tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti berinovasi. Sebaliknya, justru menjadi dasar untuk merumuskan strategi yang lebih adaptif, kontekstual, dan kreatif.

“Apabila pola pikir yang berkembang adalah terus-menerus membangun justifikasi atas keterbatasan, maka konsekuensinya dapat diprediksi, pertumbuhan lapangan kerja akan stagnan, dan tingkat pengangguran berpotensi meningkat secara berkelanjutan.” Kata Yusman

Benchmarking: Pendekatan Rasional Berbasis Praktik Terbaik

Dalam praktik ekonomi modern, benchmarking merupakan salah satu pendekatan yang terbukti efektif. Metode ini menekankan pentingnya belajar dari daerah atau sistem yang telah berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Pernyataan untuk belajar dari kota-kota yang berhasil bukanlah retorika, melainkan pendekatan berbasis best practices. “Banyak daerah dengan kondisi awal yang serupa justru mampu melakukan akselerasi pembangunan karena mereka terbuka terhadap pembelajaran, adaptif terhadap inovasi, serta berani mengadopsi model kebijakan yang telah teruji.” Jelas Bang YD

Bantahan terhadap Narasi “Indah di Kata, Jauh dari Fakta”

Narasi yang menyederhanakan gagasan sebagai “retorika” memiliki kelemahan mendasar, yaitu tidak membedah substansi, melainkan cenderung bergeser pada aspek personal.

1. Kekeliruan Logika: Kehadiran Fisik sebagai Ukuran Pemahaman

Mengaitkan validitas gagasan dengan keberadaan fisik merupakan bentuk kekeliruan logika (logical fallacy), khususnya argumentum ad hominem dan argument from location.

“Dalam pendekatan ilmiah, pemahaman tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh kualitas data dan analisis, kedalaman riset, serta kemampuan melakukan komparasi lintas wilayah.” Terang Bang YD

Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak dibatasi oleh jarak geografis, melainkan oleh kualitas argumentasi.

Terlebih Bang YD punya banyak mata, punya banyak teman, banyak saudara yang masih tinggal di Gunungsitoli. Mereka merasakan, membaca dan melihat serta memberi informasi kondisi bagaimana susahnya mereka mendapatkan pekerjaan.

2. Labelisasi Tanpa Pembuktian Empiris
Menyebut suatu gagasan sebagai “retorika” tanpa mengidentifikasi secara spesifik, berupa kesalahan data, kelemahan asumsi, atau ketidaktepatan model,
merupakan bentuk argumen yang tidak memenuhi standar diskursus ilmiah.

“Dalam debat yang sehat dan konstruktif, mestinya gagasan diuji dengan gagasan, data ditanggapi dengan data, dan strategi diverifikasi melalui pendekatan empiris maupun simulasi kebijakan. Tuliskan saja gagasanmu untuk terciptanya lapangan pekerjaan di Kota Gunungsitoli.” Tambah Bang YD

3. Keterbatasan sebagai Titik Masuk Inovasi

Narasi keterbatasan sering kali digunakan sebagai dasar untuk menolak terobosan. Padahal dalam teori pembangunan, keterbatasan justru menjadi pemicu inovasi.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kemajuan lahir dari kondisi yang tidak ideal. Oleh karena itu, “Menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk menolak gagasan baru merupakan bentuk resistensi terhadap perubahan, bukan kehati-hatian yang konstruktif. Pemikiran seperti inilah yang menghambat kemajuan.” Jelas Bang YD

4. Peta Jalan Harus Diukur Berdasarkan Output

Klaim mengenai keberadaan “peta jalan yang matang” perlu diuji secara objektif melalui capaian nyata.

Pertanyaan adalah, apakah indikator kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan? Kemiskinan yang terpampang didepan bata berkurang? Apakah penciptaan lapangan kerja menunjukkan tren yang signifikan?

“Tanpa ukuran kinerja yang jelas, peta jalan berisiko menjadi sekadar dokumen administratif, bukan instrumen transformasi yang berdampak.” Kata Bang YD

5. Perbedaan Paradigma: Status Quo vs Transformasi

Perdebatan ini pada dasarnya mencerminkan dua paradigma dalam pembangunan:

Pertama pendekatan birokratis, yang cenderung berhati-hati, gradual, dan defensif.

Kedua pendekatan transformasional, lebih bersifat progresif, akseleratif, dan berbasis peluang

“Keduanya memiliki relevansi dalam konteks tertentu. Namun, penolakan terhadap gagasan besar hanya karena dianggap sulit menunjukkan kecenderungan mempertahankan status quo, bukan upaya perbaikan yang progresif.” Kata Bang YD

Membuka lapangan kerja tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi masalah dan mengulang atau memperbanyak alasan. Yang dibutuhkan adalah “keberanian untuk berpikir melampaui kebiasaan, keterbukaan terhadap pembelajaran, serta ketegasan dalam mengambil dan mengeksekusi keputusan demi kepentingan rakyat banyak.” Tutup Bang YD

Hambatan terbesar dalam pembangunan atau menciptakan lapangan kerja, bukan semata keterbatasan sumber daya, melainkan keterbatasan cara berpikir. Gagasan mungkin tidak selalu sempurna. Namun tanpa gagasan, perubahan tidak akan pernah dimulai dan solusi yang nyata dalam menciptakan lapangan pekerjaan tidak akan pernah terwujud.

(Edward Lahagu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *